Jangan Sembarang Sandang Batik Mega Mendung

megamendung-ukiran 2 megamendung-ukiran pajajaran2


Di luar “pakem” pemakaian motif Megamendung yang biasa disandang sembarang waktu. Ternyata, ada filosofi dan aturan pakai yang kudu kita pertimbangkan. Pebatik Dr. H. Komarudin Kudiya, S.IP, M.Ds, yang sohor dengan nama jualan Batik Komar, berkisah tentangnya.

“Awalnya batik hanya dipakai kalangan keraton. Masyarakat umum kini hanya mengenal ragam hias Megamendung sebagai satu-satunya khas Cirebon. Sebenarnya ada 100 desain dari 4 keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Keprabon,”kata Komar sambil memberikan aneka contoh motif dari buku hasil penelitiannya baru-baru ini”.

Menurutnya pula, Kasepuhan ini punya ragam hias Singa Barong. Keraton Kanoman, lazimnya dikenal Paksinagaliman. Sedangkan, Keraton Keprabonan melahirkan Dalung. DanKeraton Kacirebonan punya ragam hias Bintulu. Yang lebih unik, disamping ragam hias khusus itu, ada varian lain: Megamendung, Megasumirat, Banjar Balong, Taman Arum, Singa Payung, Naga Seba, Panji Semirang, Taman Arum Sunyragi, Taman Arum Pakungwati, Taman Arum Kanoman, Taman Teratai. Sawat Penganten, Sawat Riwe, Simbar Dalung, Simbar Menjangan, Simbar Kendo, Patran Kangkung, Patran Keris, Ayam Alas Gunungjati, Ayam Sawunggaling, Ayam Katewono, Naga Utah, dan lainnya. Wuih, bingung juga kan? Ternyata batik Cirebon itu tak identik dengan Megamendung?

Berbicara soal makna filosofis dan kelompok polanya. Lagi-lagi Komar tanpa merasa lelah menjelaskan motif Mega Sumirat. Menurutnya, ini masuk kelompok ‘pola’ diagonal berunsur Megamendung atau awan. Ragam hias ini sepintas mirip Megamendung, namun ditambah oleh bentuk awan yang lebih kecil-kecil. Lazimnya disandang saat musim kemarau (mega = awan, sumirat = berkilau). Ini dipakai, bila situasi hati dan pikiran seseorang memang bersih dan berkilau. Galibnya, orang ini akan mendapatkan petunjuk cahaya dari Tuhan Yang Maha Kuasa.Nah, itulah unsur spiritualnya.

Selanjutnya, soal motif itu pun, tak sembarangan disandang. Etikanya, batik dipakai sesuai dengan acara atau kegiatan tertentu. Dewasa ini menurut Komar ada yang “rancu”. Tak sedikit masyarakat menyandang motif batik Megamendung saat acara pesta yang ceria. “Padahal, bila dikaji dari makna dan sejarahnya. Ia berarti awan gelap atau keadaan duka. Pasnya sih dipakai dalam suasana berkabung,” terang Komar dengan tertawa lepas.

Makanya, mulai sekarang, sedikit hati-hatilah memakai motif Megamendung. Jangan-jangan bila ada yang semengerti Komar, bisa-bisa sandangan kita dipertanyakannya. “Masa iya sih Pak Komar mau setega itu?”, tanya destinasianews.com mencoba menggodanya. “Oh, tentu saja tidak demikian. Mau berbusana batik apa pun motifnya, dipersilakan saja. Ini sih hanya untuk orang yang serius memaknai batik seperti Anda,”begitu tutup Komar yang mempersilakan sesiapa yang hadir di studionya mencicipi teh hangat beserta kudapan khas Cirebon. Berminat mengunjunginya? (HS/dtn)

Destinasianews

dikutip dari : Destinasianews.com


updated by @sanggatra

 

Posted in Article Tagged with: , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*